Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Berbagi Tips Menulis

astutiamudjono.wordpress.com | Rabu, Februari 11, 2015 | 26 Comments so far
Antara Nulis Diary dan Memoar Beda Tipis

Alhamdulillah berkat campur tangan Allah hati ini digerakkan untuk belajar secara online. Seumur umur saya baru sekali ini ikut belajar online berbayar. Kalau yang untuk bisnis se kelas Oriflame saya pernah ikut tapi karena tidak berjodoh ya tidak berkembang. Nah yang kemaren senin saya belajar itu tentang menulis Memoar yang diadakan oleh komunitas keren yang ada di sosmed.  Saya ingin berbagi apa yang saya dapat buat teman teman yang mungkin punya passion yang sama dengan saya. Semoga tulisan singkat dan jauh dari sempurna minimal bisa memotivasi diri saya dan juga man teman untuk semangat dan semangat dan tak pernah ngelokro (putus asa ) untuk menulis dan meningkat kemampuan menulisnya.

Konon info yang saya dapat dari nara sumber  genre momoar lagi booming nih tapi bukan di Indonesia melainkan di negerinya Om Barak Obama. Sebabnya apa ya? Pasti ingin tau dong! Ya karena di sana orang lebih leluasa mengungkapkan atau menuliskan fakta secara jujur, tidak direkayasa dan kembali ke niatnya ketika ia menulis, apakah ingin mengenang seseorang, memotivasi atau mungkin memberi pesan moral dan  bisa dijadikan cermin kehidupan. Tulisan yang seperti itu banyak peminatnya karena bukan hoax melainkan kisah nyata (true story ) walau kadang nama tokoh dan tempat disamarkan.


Nara sumber saya juga kasih bocoran bahwa kekuatan tulisan atau genre memoir ada pada daya inspirasi dan pengalaman pribadi  dari sang tokoh. Tulisan seperti ini punya daya tarik untuk mengikat emosi pembaca. Siapa saja bisa menulis memoir apakah dia tokoh terkenal atau “orang biasa”. Singkatnya orang yang memiliki pengalaman dahsyat atau bagaimana ia bisa lolos dari musibah atau kesulitan yang mencekam patut dijadikan tulisan berlebel memoir. Contohnya buku berjudul All Gone. Itu bererita tentang bagaimana pengalaman seorang anak ketika ibunya menderita dementia (kehilangan memori/pikun). Nah di sana ada pengalaman yang luar biasa ketika menghadapi seorang ibu yang mengidap penyakit tersebut.

Lebih detailnya bisa dikatakan bahwa memoir itu penggalan kisah nyata dari seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan ini masuk katagori non fiksi ya. Misalnya buku yang baru saya pinjam dari perpus Ganesa Solo yang berjudul “ Dahlan Juga Manusia “ yang ditulis oleh mantan wartawati Jawa Pos Siti Nasyi’ah. Buku itu berkisah pengalamannya bersama pemilik Jawa Pos ketika ia magang dan mendapatkan banyak ilmu tentang jurnalistik. Maka dalam cover buku itu tertulis “Pengalaman Pribadi Mengenal Dahlan Iskan.”

Genre memoir itu biasanya menyoroti satu tema jadi beda banget sama biografi yang berkisah dari mulai lahir hingga uzur. Tulisan itu juga punya crri yang mengajak pembaca terlibat langsung dalam peristiwa itu seakan sedang berada dalam kondisi dan posisi seperti penulis atau tokohnya.  Memoar biasanya sarat dengan renungan, intropeksi atau reflesksi diri. Dan yang paling penting ada yang jadi anti klimak, dimana ada titik balik (turning point) dari peristiwa yang dialami si tokoh/penulis.

Nah kalau sudah paham dengan jenis tulisan memaor pasti dengan mudah sudah bisa menentukan tema dan menulisnya. Tema apa yang mau dijadikan tulisan yang sekiranya bisa jadi motivasi atau inspirasi bagi pembaca. Cukup jelas dan mudahkan mengenalnya dan cara berlatihnya bisa dengan ngulik diary yang sering kita isi dengan kejadian kejadian yang pernah kita alami.

Bagi yang sudah rajin nulis diary untuk dikembangkan jadi tulisan yang bergenre memoir peluangnya besar. Tinggal dipoles dan berlatih menulis (hehehe). Karena dari tulisan di diary merangsang daya ingat pada kenangan, kejadian, atau kegundahan saat itu yang bisa diceritakan kembali. Atau cara sederhana lainnya adalah dengan mengamati album foto jadul yang kita miliki. Yuk kita prkatekan.!!!
Read More

IBUKU SUPER DUPER

astutiamudjono.wordpress.com | Jumat, November 14, 2014 | | 10 Comments so far


Ibu, Bunda, simbok, Sibu, Mami, Mama, Emak atau apapun sebutannya bagi orang yang telah melahirkan kita di dunia punya tempat tersendiri di hati kita. Aku merasa beruntung dilahirkan dari rahim seorang ibu yang super duper. 

Ibuku bukan dari golongan balung gajah ( orang kaya ). Masa kecil ibuku ngga seindah masa kecilku. Di usia 10 tahun ibu sudah yatim piatu.Ia dirawat sama Budenya hingga ia menikah. Alhamdulillah ibu bisa menyelesaikan sekolah perawat di tahun 1958. Setelah menikah diboyong Bapak ke Jakarta. Sayang belum genap 5 tahun usia perkawinannya, prahara datang yang harus memisahkan kami dan Bapak.

Hiks politik sungguh kejam. Kami harus hidup dari nol lagi. Kami mengontrak rumah sederhana berdinding bambu dan berlantai plesteran ( semen yang dicor di lantai ). Ibu dari suster di rumah sakit,  beralih profesi walau tidak terlalu beda jauh, yaitu jadi mantri keliling di bawah yayasan balai pengobatan. Bermodal jarum suntik, obat dan sepeda onthel, ibu keliling kampung door to door mengobati orang sakit. Para tetangga dan pasiennya memanggilnya Bu Jeksi.

Sejak kecil kami sudah dibekali dengan ilmu agama Islam. Pagi sekolah negeri, siang sekolah madrasah. Padahal pengetahuan agama Ibu sangat dangkal, Ibu ngga bisa mengaji, belajar sholat juga baru saja setelah terjadi prahara. Tapi Ibu ngga ingin anak anaknya bodoh seperti dia yang telat belajar agama Islam. Semangat ibu membesarkan kami sangat luar biasa. Ibu ingin anak anaknya sehat, sekolahnya pintar dan tidak mengalami nasib seperti dirinya dahulu yang serba kekurangan baik kasih sayang maupun materi. Untuk menggapai semua itu Ibu rela berpanas ria dan bermandi peluh.

Ibu mendidik kami dengan cara yang semi otoriter, adil dan penuh kasih sayang. Ibu seorang yang tegas dan pemberani, selain itu jiwa sosialnya sungguh luar biasa. Tapi ibu juga manusia biasa yang kadang tak sempurna. Ibu suka ceplas ceplos dan kalau bicara tidak tedeng aling aling kata orang jawa. Jadi ada saja yang tersinggung dengan ucapan Ibu. Untungnya Ibu mudah minta maaf, tidak pernah dendam.

Ketika kami beranjak remaja, kami sudah punya tanggungjawab terhadap diri sendiri, dan Ibu mengajarkan bagaimana cara berbakti kepada orang tua, menjaga diri, dan selalu memompa semangat kami untuk meraih mimpi. Aku sebagai anak sulung merasa paling disayang oleh Ibu. Ibu menjadikan aku sebagai sahabatnya. Jadi aku tahu persis hati, perasaan dan pikiran ibu. Aku tumbuh dewasa sebelum waktunya karena Ibu mengajari bagaimana bertahan dalam kerasnya kehidupan. Aku harus mandiri dan siap bila kelak harus menghidupi keluarga, tidak tergantung pada suami.

Perjuangan Ibu dibuktikan dengan semangat kerjanya, ketulusan hatinya dan keikhlasannya sungguh melebihi luasnya samudera. Obsesinya yang ingin anak anaknya bahagia dan tidak mengalami derita seperti yang pernah dirasakannya. Ibu rela antri berjam jam demi mendapatkan selemar formulir pendaftaran masuk UNS tahun 1980, Ibu punya waktu untuk sewa mobil dan mengunjungiku di desa terpencil tempatku KKN, Ibu yang selau menunggui diriku ketika jihad melahirkan empat bayi mungil dari tahun ke tahun.


Kasih sayang Ibu untuk anak dan cucunya seluas samudera. Ibu rela mengorbankan hidupnya untuk kami. Ibu rela menikah hanya demi status. Karena predikat janda saat itu sangat dilecehkan. Padahal aku tahu persis Ibu tidak bahagia. Ibu hanya butuh status kalau ia punya suami. Sedang kebutuhan kami semua Ibu yang memenuhi.

Kebersamaanku dengan Ibu sungguh mesra apalagi di saat ibu menua dan digrogoti penyakit. Kerja kerasnya di masa muda harus dibayar mahal. Ibu mengidap hipertensi, DM, asam lambung dan Ibu juga terkena stroke ringan. Penyakit itu bersahabat cukup lama dengan Ibu. Semangatnya untuk sembuh juga luar biasa Keadaan Ibu yang stroke ringan dan ada panggilan untuk menunaikan ibadah haji, justru membawa keberkahan pada diriku. Karena adikku berkenan membiayai kami berempat ibadah haji di tahun 2006.

Ibuku adalah dosen di universitas kehidupanku. Ibu yang mewarnai langkah, prinsip, hati dan diri ini. Ajarannya, doktrinnya, membuatku tegar ketika tertimpa badai, membuatku tabah ketika kehilangan, membuatku mampu menjadi diriku sendiri dan berusaha taat dengan hukum Allah. Tanpamu aku bukan siapa siapa.

Ibu, kau sudah 8 tahun meninggalkan kami dengan kenangan yang tak mungkin hilang dari kehidupan kami. Seperangkat furniture yang ada di kamarku hadiah perkawianan kami masih awet dan berguna hingga saat ini. Perlengkapan masak dan makan yang ada di dapur juga warisanmu yang sangat bermanfaat, termasuk ilmu kehidupan yang kau berikan padaku rasanya tak sanggup kubalas.

Ibu, kini hanya untaian doa panjang setiap selesai sholat yang bisa kuhadiahkan sebagai baktiku padamu. Mengunjungi dan berbagi dengan kerabatmu, dan meneruskan asa dan citamu yaitu agar cucumu meraih sukses di dunia dan akherat. Aku ingin menjadi istri yang solehah dan mbah Uti yang  bermanfaat untuk orang lain.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.

Read More